Pertemuan Yang Mengharukan
Malam ini, Wawotobi terasa sunyi. Dingin dan hening. Kota kecil di daratan luas di garis khatulistiwa di Sulewesi Tenggara senyap. Jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Seperti biasa, lalu lintas kota berangsur sepi semakin ditelan malam. Mataku belum terpejam, yang terfikir di benakku adalah rencana yang akan kulakukan esok sebelum berangkat ke sekolah. Ke pasar.
Sudah seminggu ini ballpoint Pilot-ku habis, walau harga 450 perak aku tak mampu membelinya, seminggu ini pula aku menggoreskan tinta buku-buku pelajaran sekolah hanya dengan pensil. Lima hari yang lalu sandal swallowku putus, buku-buku pelajaran sekolah sudah harus kubeli. Maklumlah sudah tiga bulan masuk sekolah aku belum memiliki buku-buku paket belajar semester ini di sekolahku, SMP Negeri Wawotobi.
Aku masih ingat saran teman-teman di kelas sabtu sore itu. Imam anak Pak Jono tukang reparasi dan service jam menawariku jualan Koran. Risma anak bos pengusaha es krim menawarkan untuk membantu ayahnya. Kasmawati putri Soppeng pemilik restoran besar dan terkenal di kota ini atau si Reno anak kampung pedalaman suku Tolaki mengajakku bersama-sama jualan plastik dan kuli di pasar Wawotobi tiap Senin dan Kamis. Aku sebenarnya malu dengan tawaran itu. Aku yakin mereka tulus memberikan support. Mereka senang dan bangga aku baru saja telah terpilih di peringkat pertama test ujian tengah semester di kelas dan ketiga di seluruh angkatan kelasku. Dan akupun juga bangga.
Memang, perasaanku malam ini berbalut rindu yang membuncah, teringat bayangan ayah ibu yang sejak dua tahun aku berpisah dengannya. Entahlah, sejak aku duduk di bangku SD Negeri Nario Indah Kelas lima, Ayahku memutuskan untuk membawa keluarganya hijrah di daerah pedalaman perbatasan antara Sulawesi Tengah dan Tenggara. Desa Mala-Mala Kecamatan Lasusua. Tidak kurang dari 24 jam perjalanan darat dan laut. Aku tidak ikut karena kecintaanku untuk bisa sekolah hingga lulus SD dan melanjutkan ke SMP. Aku ingin sekolah, itu keputusanku. Aku dengar di tempat ayah yang baru itu tidak ada sekolah, hutan belantara di kaki gunung Mekongga dan ribuan hektar tanaman kakao di hamparan pesisir pantai Teluk Bone.
Aku akhirnya tetap bertahan di desaku Nario Indah sejak kelas 5 SD dan ikut bersama seorang guru teladan SD Ibu Rumisah dan Pak Sukadi. Hingga tamat. Sejak tamat SD aku harus menempuh perjalanan ke kota Wawotobi ini, satu-satunya sekolah negeri, walau harus kutempuh 12 km dengan sepeda onthel/angin menelusuri tiga desa; Kulahi, Inalahi dan Wawotobi, menelusuri jalan irigasi bendungan Unaaha, sepi dan jauh dari kehidupan warga, melewati hutan belantara, dan di jalan aku harus ekstra waspada, karena tak jarang ada aksi begal yang harus mempertaruhkan nyawa.
Malam ini aku teringat mereka. Namun ingatanku ditelan sunyi, ditelan rencananku esok pagi. Aku bersyukr tinggal di tempat ini. Pak Jono, tukang reparasi & service jam yang juga anaknya adalah teman sekelasku. Imam. Sudah dua bulan aku tinggal dengan keluarganya di kota ini. Aku sengaja memenuhi tawarannya karena disamping dia adalah teman satu-satunya yang perantau dari 840 siswa, juga karena rumah ini dekat dengan masjid Jami Al-Istiqamah, masjid raya di kota ini.
Alunan bacaan Al-Qur’an Qori’ Muammar ZA telah memecah kesunyian dan membangunkanku. Seperti biasa lima belas menit sebelum adzan Shubuh berkumandang. Aku bergegas ke masjid. Wawotobi masih terasa dingin dan sunyi. Hanya pete-pete (kendaraan angkutan desa) mulai berdatangan. TAk ada sarung yang kubawa, celana kolor menutup lutut yang kusut dan kaos biru sepak bola bernomor 5. Aku masih ingat. Karena tak berbekal sandal, aku punya kebiasaan baru, ke masjid tanpa alas kaki, menunggu sampai ada jamaah datang, dan meminjam sandalnya untuk kupakai berwudhu sekaligus membersihkan kakiku. Usai shalat aku kembali ke rumah untuk bersiap ke pasar. Dan tentunya tanpa bealas kaki.
“Bismillah, dengan namaMu Ya Allah aku mengadukan segala urusanku. Atas keutamaan perintah yang Engkau amanahkan pada manusia, mudahkanlah kami dalam menuntut ilmu. Kabulkanlah Ya Allah…” bisikku.
Pasar adalah tujuanku. Sebenarnya aktifitasku ini sudah beberapa hari, ke pasar sebelum berangkat ke sekolah. Di kelas satu ini sekolah memutuskan untuk masuk jam satu siang. Jadi, bagiku lebih mudah dan kesempatan untuk mencari uang saku.
Tak berapa lama, di depan ada pete-pete berhenti. Dan aku bersiap untuk naik di belakang.
“ikeeni hey (kemari), naik kau di belakang!” Teriak sopir pete-pete dengan bahasa suku mereka.
Aku bergegas. Di belakang pete-pete. Berdiri.
‘Kemana kau…!’ Tanya seorang seorang ibu tua dengan logat bahasa Tolaki yang duduk didepanku dengan tumpukan 2 karung singkongnya yang sejak tadi terus memperhatikanku.
“ Saya mau ke pasar bu” jawabku.
“He pak Sopir, tolong anak ini jangan bayar ya, biar aku yang bayar..”
“Alhamdulillah,” bisikku
Pasar Wawotobi memang tak jauh dari rumah Pak Jono tempat aku tinggal. Dua kilometer. Hampir semua desa-desa di seluruh pedalaman suku Tolaki dari Desa Ranoeya, Kulahi, Palarahi atau desa Konawe berbaur di pasar ini. Kebanyakan untuk pedagang-pedangang besar didominasi oleh suku Bugis. Ada juga dari desa-desa penduduk transmigran yang menjual hasil taninya. Nario Indah, Karandu dan desa-desa lain. Biasanya mereka berangkat sekitar jam satu malam. Termasuk desaku, Nario Indah. Sejak dua bulan aku memutuskan untuk tinggal di Wawotobi memang di pasarlah aku menyempatkan untuk mengobati kerinduan dengan orang-orang yang kepasar dari Nario Indah.
—
Cahaya fajar di kota ini mulai menyeruak pekatnya malam. Langit begitu temaram, indah berbalut bayangan hamparan pegunungan yang mulai tersinari mentari pagi. Sudah 2 karung singkong kupanggul dari tempat bongkar muat angkutan pedesaan ke los dalam pasar. 100 perak satu karungnya. Lumayan, 2 keping mata uang rupiah sudah digenggamanku. Ada tas kecil kubawa berisi sekitar 12 bungkus plastik dari si Reno anak kampong suku tolaki itu. Biasanya aku sanggup menjualnya berkeliling pasar dengan harga 125 perak atau 150 perak tergantung orang yang berbelas kasihan kepadaku. Sesudah itu kubayarkan ke si Reno 100 perak. 25 rupiah atau 50. Lumayan. Ada satu karung lagi yang harus kuangkat. Ya, satu karung beras berbobot 50 kg, Ups, kuangkat. Aku sempat terjatuh. Tetapi untuk yang kedua kalinya aku berhasil. Lumayan berat untuk seusiaku. Alhamdulillah. 200 perak sudah kudapat.
Wawotobi masih terasa gelap. Namun hiruk pikuk pasar ini semakin ramai, hidup dan warna-warni. Disebut warna warni kerena disinilah tempat pertemuan masyarakat dari berbagai suku. Bugis Makassar, Tolaki, Bali, Jawa dan Sunda. Ada juga beberapa pedagang Tionghoa. Bagi pedagang suku Jawa biasanya berkumpung di sudut kanan pasar itu. Para pedagang hasil pertanian masyarakat transmigran. Biasanya aku selalu menyempatkan untuk menemuinya, sembari menanyakan kabar teman-temanku sewaktu di bangku SD dan kabar Ibu Rumisah dan Bapak Sukidi tempat aku tinggal sejak aku berpisah dengan ayah dan ibu.
Perlahan, aku menelusuri lorong sempit dan mulai padat, begitulah pasar. Kudekati sudut pasar tempat pedagang-pedagang dari Desa Nario Indah, biasanya satu pete-pete. Kugenggam beberapa lembar uang kertas dan dua koin seratus rupiah. Belum sampai di tempat berkumpulnya mereka.
Bruk!,
Seorang bapak berusia senja di depanku. Aku menabraknya.
Hub!!, hampir saja aku terjatuh. Badannya memang besar. Agak hitam dan berambut keriting bak penyanyi Ahmad Albar . Kupandang wajahnya, dan dia memandangi pula wajahku. Ia lebih terkejut dan terkesima. Aku, tak kuasa menahan haru.
“Ayah…?!!!, “ kataku tak kuasa menahan haru
Ayahku tak berucap kata-kata. Tak menatap selain ke wajahku. Walau perlahan ia menatap senti demi senti dari ujung rambutku sampai kaki. Rambutku kusam belum sempat kucukur, kaos olahragaku sejak hari sabtu yang lalu, sekantong plastic dagangan dari Reno anak kampung suku pedalaman, celana hingga kakiku tanpa sandal, sejak seminggu yang lalu.
“Kamu ada di sini nak, lagi apa di sini. Ayah tidak menyangka kamu di pasar ini. Tujuan ayah sebenarnya ke Nario Indah tempatmu dulu sekolah. Tapi kamu tidak ada. Ayah mencarimu kemarin seharian… ” Ayahku bertanya-tanya
“Saya Jualan pak…, sudah seminggu ini ga punya apa-apa… Hiks hiks .. Trus, kenapa ayah sampai di tempat ini? .” Jawabku tak kuasa menahan tangis.
“Akhirnya ayahmu ini bertemu dengan pedagang desa yang sering ke pasar Wawotobi ini, mereka berkata: ‘kalau mau bertemu anak bapak, tunggu saja di pintu masuk sebelah kanan pasar, bapak nanti akan melihat ada anak kecil dan salah satunya itu Muhtar Fatony anak bapak itu’….” . Kata ayahku.
Aku dipeluknya kembali. Kini pelukannya lebih erat. Erat sekali, hingga aku terasa sesak. Kucoba menatap wajahnya, belum sempat aku memandanginya, wajahku basah dengan tetesan air matanya. Ia terkejut, tak kuasa menahan tangis. Akupun ikut menangis bahkan lebih keras dari tangisan ayahku hingga menolehkan pandangan seluruh pedagang yang berkumpul dari kampungku. Kami larut dalam pelukan kerinduan yang selama ini membuncah. Inilah pertemuan yang aku inginkan, walau sebenarnya bukan di tempat ini, bukan dalam keadaan seperti ini.
Hampir dua tahun kami berpisah. Tak ada komunikasi, tak ada berita. Di daerah pedalaman Sulawesi Tengah dan Tenggara ayahku memang merintis dakwah sambil membangun ekonomi keluarga. Di pilihlah daerah perkebunan kelapa dan kakao, mengelola perkebunan milik masyarakat suku Bugis. Walau masuk Sulawesi Tenggara namun hampir seluruhnya adalah suku Bugis. Mereka sangat santun dan pekerja keras. Hidup di pesisir laut Makassar.
“Nanti siang kamu ikut ayah ya, ayah tidak tega meninggalkanmu di Wawotobi ini sendiri, soal sekolah nanti kita cari di sana. Wis, sing penting ngumpul, mangan ora mangan, tapi podo ngumpul. Memang di sana tidak ada sekolah negeri, yang ada adalah madrasah Tsanawiyah di pedalaman kampong suku Bugis…sekitar lima kilometer dari tempat tinggal kita dan harus ditempuh dengan berjalan kaki. Siang ini kita ke Nario Indah dulu sehari esoknya kita ke Kolaka tempat ayah, ibu dan adik-adikmu, Zaini Mahfudz dan Ichta Fasykurni..”. Ayahku berusaha menjelaskan.
Akupun menuruti ajakan ayah. Aku teringat Zaini adikku dan Ichta yang masih berumur 2 tahun. Aku rindu pada mereka. Khususnya ibu yang selalu kudamba cinta dan kasih sayangnya. Walau tak dapat kubayangkan bagaimana kelanjutan sekolahku di sana kelak. Aku masih ingin sekolah terutama di sekolah negeri. Aku ingin sekali bisa kuliah, teringat ketika Pak Anshar guru kelas kesayanganku di kelas empat saat kami ditanya tentang cita-cita. Dan akupun menjawab: “Ingin jadi Insinyur pak guru”.
Aku merasakan dua tahun terasa begitu lama, aku harus mengikuti keinginan orang tua, hidup bersama di tanah rantau. Sekalipun aku menyadari banyak pengalaman dan pelajaran dalam hidup ini. Persahabatan, perjuangan, kesabaran, ketekunan, kedisiplinan saat aku ikut keluarga Bapak Sukadi di akhir bangku SD, bahkan rona-rona cinta dalam persahabatan kami di SMP Negeri Wawotobi. Yah, rona-rona cinta. Sebenarnya aku tak tahu apa makna itu semua. Tetapi yang terbayang adalah siang ini aku harus mengucapkan kata perpisahan dengan teman-temanku di kelas. Imam, Reno, Risma, Kasmawati, Borman, Melinus dan teman yang lain. Berat rasanya meninggalkan kota ini. Berat rasanya harus mengucapkan selamat tinggal Wawotobi.
(bersambung…)